Entrepreneur dalam Pendidikan (bag. 3)

Tulisan pada bagian ketiga adalah upaya untuk “membumikan” kewirausahaan disekolah. Tulisan bagian pertama lebih menitik beratkan pada fungsi dan peran pengelola sekolah, sedangkan tulisan kedua masih sama, hanya saja sudah mulai melibatkan peran peserta didik. Namun pada tulisan ketiga ini, penulis mencoba untuk melibatkan seluruh keluarga besar sekolah untuk aktif dalam kewirausahaan sekolah.

Guru dapat memasukkan semangat kewirausahaan pada mata pelajaran yang diampunya. Materi pelajaran dapat dikaitkan dengan kewirausahaan. Hal ini tentu menuntut kreatifitas guru yang bersangkutan untuk memilih tema pembelajaran yang tepat (bukankah kreatifitas bagian dari jiwa wirausaha?). Kewirausahaan secara kognitif melalui pembelajaran dikelas kemudian dapat ditindak lanjuti dengan melibatkan aspek psikomotor dan afektif. Psikomotor dapat berupa sentra-sentra produksi, sedangkan afektif berupa pembiasan kegiatan kewirausahaan itu sendiri, dengan peserta didik dilibatkan dalam pengelolaannya. Dilibatkan. Bukan hanya sebagai petugas lapangan saja, namun juga diajak bertindak sebagai manajer.

Kewirausahaan dari segi psikomotor, peserta didik dapat diarahkan pada sektor produksi dengan sentra-sentra produksi. Sebagi contoh penerapan ekstrakurikuler yang menghasilkan produk, program OCOP (One Class One Produk), dan program taman menghasilkan.

Baca lebih lanjut

Entrepreneur dalam Pendidikan (bag. 2)

Tulisan kedua ini masih menyoroti tentang entrepreneur dalam pendidikan. Tulisan yang pertama menitikberatkan pada potensi akademik yang dimiliki oleh institusi pendidikan sebagai modal untuk menarik “klien”. Potensi tersebut dioptimalkan sehingga menjadi daya tarik, misalnya unggul dalam prestasi akademik peserta didik, unggul dalam prestasi pengajar, menjadi sekolah yang dijadikan rujukan masyarakat (baca: favorit).

Berbeda dengan tulisan pertama, pada bagian kedua penulis menitikberatkan pada pembentukan suatu Badan Usaha Dana yang dimiliki sekolah, untuk selanjutnya penulis singkat menjadi  BUDS (Badan Usaha Dana Sekolah). Pada setiap institusi pendidikan, khususnya sekolah, memiliki kelembagaan Koperasi Sekolah. Optimalisasi peran Koperasi Sekolah sebagai sarana pembelajaran bagi peserta didik sedikit banyak sudah dilakukan, biasanya dengan melibatkan peserta didik sebagai pramuniaga. Namun demikian peran koperasi sekolah sebenarnya masih bisa digali lagi dengan koperasi sekolah yang all out. Hal ini berarti koperasi sekolah benar-benar dapat digunakan sebagai salah satu BUDS yang mengahsilkan keuntungan secara finansial. Baca lebih lanjut

Entrepreneur dalam Pendidikan (bag. 1)

Entrepreneur merupakan kata dari bahasa Prancis yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai wirausaha. Wirausaha dalam pengertian sempit merupakan suatu usaha yang berorientasi meraih keuntungan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pengertian wirausaha secara luas lebih menitik beratkan pada menggali potensi diri untuk meraih keuntungan baik finansial maupun non finansial.

Dunia pendidikan tentu dapat dihubungkan dengan entrepreneur. Hubungan tersebut tidak berarti pendidikan dijadikan “ladang bisnis” untuk meraup keuntungan secara ekonomi. Memang hal tersebut tidak sepenuhnya salah, sejauh berada dalam koridor konstitusi, dan bukan mencari celah dari konstitusi. Memahami hubungan entrepreneur dengan pendidikan seharusnya dilihat untuk “menjual” potensi pendidikan, sehingga kualitas dan kuantitas pendidikan semakin meningkat. Bukankah itu suatu keuntungan juga? Mengingat entrepreneur berorientasi pada perolehan keuntungan. Baca lebih lanjut

Analisa Potensi dan Permasalahan Pendidikan Di SMP Negeri 2 Purbalingga (ditinjau dari Sudut Pandang Sekolah, Lingkungan, dan Orang Tua)

Analisa Potensi dan Permasalahan Pendidikan

Di SMP Negeri 2 Purbalingga

(ditinjau dari Sudut Pandang Sekolah, Lingkungan, dan Orang Tua)

Oleh: Dwi Hatmoko

Gambaram Umum

SMP Negeri 2 Purbalingga resmi berdiri pada tanggal 24 Agustus 1964. Diawal berdirinya sekolah tersebut bernama SMP Negeri Purbalingga yang merupakan SMP negeri yang pertama di Purbalingga. Penetapan tanggal 24 Agustus 1964 diambil pada saat SMP Negeri Purbalingga dipecah menjadi dua, yaitu SMP Negeri 1 Purbalingga dan SMP Negeri 2 Purbalingga. SMP Negeri 1 Purbalingga menempati gedung bekas HIS, sedang SMP Negeri 2 Purbalingga menempati gedung lama. Oleh karena itu sekolah yang beralamat di Jalan Letkol Isdiman nomor 194 Purbalingga tersebut merupakan SMP negeri yang pertama berdiri bersama dengan SMP Negeri 1 Purbalingga. Tanggal tersebut adalah tanggal pemecahan SMP Negeri 2 Purbalingga. Baca lebih lanjut

Sungai Brantas dari Masa ke Masa (Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)

Sungai Brantas dari Masa ke Masa

(Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)

Disusun oleh Dwi Hatmoko

Gambaran Umum

Sungai Brantas adalah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Timur. Sungai yang berhulu dan bermuara di propinsi yang sama ini melewati beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur. Menurut data yang diperoleh dari Departemen Pekerjaan Umum didapatkan bahwa Sungai Brantas secara total memiliki panjang 12.000 km2 dengan anak sungai sebanyak 485 buah (www.pu.go.id/satminkal). Aliran Sungai Brantas melintasi 9 yaitu kabupaten Malang, Blitas, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan Sidoarjo, sedangkan kota ada 6 yaitu Surabaya, Batu, Mojokerto, Kediri, Blitar, dan Malang. Begitu panjang dan besarnya Sungai Brantas ternyata memberi dampak bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di DAS Brantas. Sungai Brantas begitu berperan bagi masyarakat dari masa ke masa.

  • Masa Pra Kolonial Barat

Catatan paling tua mengenai sungai Brantas adalah Prasasti Harinjing (921 M). Prasasti dimasa Mpu Sindok ini menerangkan bahwa ada perbaikan “dawuhan” yang telah dibuat dari masa sebelumnya (804 M). Prasasti Harinjing ditemukan di hulu Sungai Konto (anak Sungai Brantas). Baca lebih lanjut

Sampingan

Fungsi Laten Pendidikan

(Berdasarkan Konsep Teori Ralf Dahrendof)

By Dwi Hatmoko

Pendahuluan

Merunut pada Teori Sosial Ralf Dahrendof bahwa fungsi lembaga sosial ada dua yaitu fungsi manifes/nyata/diharapkan dan fungsi laten/tersembunyi/tak diharapkan. Fungsi laten meskipun tidak diharapkan tetapi nyata terjadi.  Adapun pada kajian kali ini adalah mencoba mengupas fungsi laten dalam dunia pendidikan. Pemilihan pendidikan karena merupakan sarana bagi setiap manusia untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik lagi. Di Indonesia, pendidikan sendiri bertujuan untuk mewujudkan manusia yang seutuhnya baik secara rohani, jasmani dan sosial. Dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut maka pemerintah membuat regulasi tentang pendidikan. Regulasi tersebut diantaranya meliputi struktur lembaga pendidikan, kurikulum pendidikan dan pendanaan. Pembuatan regulasi selain diharapkan dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, ternyata juga sebagai alat pemerintah untuk memantau dan mengontrol pendidikan. Dengan demikian fungsi pendidikan yang diharapkan dapat mewujudkan manusia yang seutuhnya sesuai potensi yang dimiliki masing-masing individu menjadi bias. Hal yang bias inilah yang merupakan fungsi laten pendidikan yang akan dibahas pada pokok pembahasan dibawah.

Pembahasan

Seperti pada pendahuluan diatas maka pada pokok pembahasan ini, akan dikupas fungsi laten atau fungsi tersembunyi dari pendidikan yang ada sekarang. Berikut adalah fungsi laten pendidikan :

  1. Pendidikan sarana deradikalisasi: mengurangi (menghilangkan) sikap radikal Baca lebih lanjut

Kurikulum 2013 dan implementasinya di lapangan

Kurikulum 2013 sudah diluncurkan. Banyak pro dan kontra yang mengiringi peluncurannya. Kemdikbud tetap dengan langkah pasti menerapkannya. Sebenarnya bagaimana sih kurikulum 2013 itu sehingga terjadi pro dan kontra.

Pihak kontra memberikan alasan sebagai berikut :

  • Kurikulum 2013 terlalu cepat sosialisasinya
  • hanya dijadikan proyek saja
  • kesulitan penilaian dan pemilihan kompetensi dalam implementasinya

Pihak pro memberikan alasan sebagai berikut :

  • Kurikulum 2013 menerapkan keseimbangan Sikap, Pengetahuan, dan Ketrampilan disetiap mata pelajaran
  • Konsep scientific harus benar-benar diterapkan
  • Pengajar hanya fasilitator saja, sedang sebagian besar kegiatan belajar mengajar merupakan keaktifan siswa
  • Beban materi pelajaran lebih ringan

Marilah kita telaah bersama isi kurikulum 2013 tentang kelebihan dan kelemahannya.