Purbalingga dalam Kesejarahan Indonesia


Purbalingga merupakan sebuah kabupaten di propinsi Jawa Tengah. Secara geografis berbatasan dengan kabupaten Banyumas, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan. Dari segi sejarah, Purbalingga belum lah sehebat daerah lain, misalnya Magelang dengan Borobudurnya, Yogyakarta dengan keraton dan candi Hindu-Buddha nya. Meskipun demikian, bila ditelusur lebih jauh, Purbalingga sebenarnya mempunyai potensi besar karena terdapat peninggalan sejarah yang relatif komplit dari masa prasejarah sampai dengan masa kolonialisme Barat di Indonesia.

 

Purbalingga dimasa Prasejarah

Purbalingga memiliki beberapa situs prasejarah. Diantara yang pernah ditemukan adalah menhir dan “bengkel”  pembuatan benda-benda (semacam perhiasan batu dsb) dimasa Neolitikhum, Punden berundak, dan lainnya. Beberapa benda yang pernah ditemukan ada yang terdapat di “Museum Terbuka”, artinya masih dilokasi aslinya, dan ada yang sudah dibawa ke Museum yang sebenarnya. Menhir yang terdapat di Purbalingga agak berbeda dengan umumnya menhir yang ada, yaitu adanya istilah menhir “lanang-wadon” atau “pria-wanita” dan menhir yang berada diposisi miring ke arah gunung yang terdekat.  Adanya menhir “lanang-wadon” karena menhir biasanya sepasang dengan letak berimpitan yang pendek seperti berada di bawah yang lebih besar, seperti menahan beban yang lebih besar.

 

Purbalingga di masa Kerajaan Hindu-Buddha

Diakui memang  belum pernah ditemukan jejak kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di Purbalingga. Meski pun demikian banyak ditemukan sisa-sisa pemujaan yang bernafaskan Hindu. Penemuan Lingga-Yoni merupakan hal yang paling sering ditemukan di Purbalingga, baik didaerah yang bertopografi pegunungan maupun yang lebih rendah. Ada satu model Lingga-Yoni yangbisa dianggap lain dengan yang lain, karena berbentuk telur (masyarakat sekitar menyebutnya “watu ndog” atau batu telur).  Lingga dianggap dari batu yang berbentuk telur, sedang yoni adalah batu yang menjadi alas atau “wadah” nya (wadah = tempat).

Disamping Lingga-Yoni juga terdapat sebuah prasasti yang tertulis di sebuah batu besar, diperkirakan berasal dari abad VII-VIII M. Berdasarkan terjemahan seorang ahli dari UGM, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemungkinan besar daerah Purbalingga menjadi basis pertahanan (atau bahkan penyerangan) saat Sriwijaya akan menghukum Bhumi Jawa yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan Sriwijaya. Jadi menurut penulis, dengan banyaknya penemuan Lingga-Yoni di seputar Purbalingga adalah upaya secara kerohanian dari pihak Jawa untuk memohon kepada-Nya agar dilindungi dari serangan Sriwijaya, selain melakukan upaya nyata berupa perlawanan secara militer.

 

Purbalingga dimasa Kerajaan Islam

Dimasa Kerajaan Islam, menurut “folklore” , menyebutkan adanya kadipaten Onje (sekarang berada Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga) yang merupakan cikal bakal Kabupaten Purbalingga sekarang ini, ada juga kadipaten Cipaku (juga berada di kecamatan Mrebet, Purbalingga) sebagai asal Kabupaten Purbalingga, dan kadipaten Wirasaba (berada di kecamatan Bukateja) juga dianggap sebagai asal Kabupaten Purbalingga. Memang banyak sekali peninggalan bersejarah dimasa Hindu dan Islam ditemukan disekitar kecamatan tersebut. Manuskrip yang sampai sekarang disimpan oleh masyarakat Onje, menyebut tentang penganugerahan kadipaten Onje dari penguasa Kerajaan Pajang.

Terlepas dari hal itu semua, ada sebuah peninggalan penting yang sampai sekarang digunakan oleh masyarakat, yaitu Masjid Sayid Kuning, yang merupakan masjid kuno yang ada di Purbalingga. Disamping itu juga adanya Masyarakat Islam Aboge, yang diyakini merupakan suatu aliran Islam yang berasal dari suatu pencampuran Islam dengan budaya asli/lokal.

 

Purbalingga dimasa Kolonial Belanda

Kolonialisme Belanda sampai sekarang dapat dilihat peninggalannya berupa gedung-gedung kuno di seputar Purbalingga, pekuburan Belanda atau momento mori  (sekarang dijadikan taman kota), dan museum tempat lahir panglima Besar Jenderal Besar Soedirman (berada di kecamatan Rembang, Purbalingga).  Stasiun kereta api (hanya sekarang sudah tidak digunakan lagi) juga salah satu peninggalan Belanda yang ada di Purbalingga. Adanya komplek pekuburan Belanda, membuktikan bahwa warga Belanda banyak yang tinggal dan menetap di Purbalingga dimasa penjajahan dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s